Ternyata
melahap habis buku seri cerdas emosi karya kak seto membuatku ketagihan melahap
buku perpustakaan yang lainnya. Seperti sebelumnya telah kukatakan, aku memang
berniat ingin memanfaatkan perpusda sebaik-baiknya, terutama dalam hal
pinjam-meminjam buku (karena memang untuk sekarang ini tak semua buku bagus
bisa kubeli). Hehehe…
Buku kedua yang kupinjam adalah buku karya Mustamir, “Kaya
tapi miskin, Cara Lucu Menjaga Kesehatan, Melembutkan
Emosi, Menajamkan Pikiran, dan Menjernihkan Ruhani”. Pertama melihat daftar
pustaka sih gak terlalu wah, karena memang penampilannya biasa-biasa saja,
hanya judul-judul pendek yang tak bisa kutebak maksud isinya. Tapi, ada yang
menarik di beberapa halaman pertama, penulis mengharuskan pembaca tertawa
meskipun itu hanya untuk menertawakan dirinya yang tak tertawa saat membaca
cerita lucu yang ada dibuku itu. Hahahhaah… Ajakannya itu sungguh membuatku
penasaran, memangnya selucu apa kisah yang ia tuliskan?
Halaman demi halaman pun kulahap, bab pertama lebih banyak
menyuguhkan berbagai hasil penelitian dan informasi mengenai manfaat tertawa.
Karena aku termasuk orang yang suka membaca hasil riset, makin asyiklah aku
melahap buku itu. Salah satu hasil riset yang dipaparkan penulis adalah hasil
riset Dr. Lee S. Berg dari Universitas Loma Linda, Amerika Serikat, yang
mengatakan bahwa ternyata tertawa membantu meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh
alami (sel NK), dan juga dapat menaikkan jumlah antibodi (terutama
immunoglobulin A) dalam lendir di hidung dan disaluran pernapasan yang
dipercaya mempunyai kekuatan melawan virus, bakteri, dan mikroorganisme lain. Tertawa
dapat mengurangi frekuensi terserang pilek, sakit tenggorokan, dan sesak nafas.
Dampak tertawa terhadap sistem kekebalan dianggap sangat besar dalam hubungan
dengan penyakit-penyakit mematikan seperti AIDS dan kanker. Begitu tulisnya di
bab pertama bukunya.
Secara garis besar, buku ini memang mengajak pembaca untuk
menjadi orang humoris. Mengapa demikian? Karena ternyata orang humoris mampu
menguatkan dirinya dengan berusaha menempatkan masalah hidupnya diruang
kedamaian, sehingga tidak mengganggu kesehatan, kecerdasan, dan kebijakannya,
seperti yang telah penulis sampaikan dalam buku tersebut. Hanya saja, penulis
tetap menekankan perbedaan antara humor dengan lelucon, karena humor
menimbulkan ketentraman jiwa, sedangkan lelucon seringkali menimbulkan sakit
hati dan permusuhan karena objeknya adalah orang/kelompok lain bukan dirinya
sendiri. Penulis dengan yakin menjelaskan bahwa humor bisa menyehatkan badan,
mengelola emosi, menjernihkan ruhani, dan juga melatih otak. Dengan begitu,
kesehatan menjadi baik, IQ, EQ dan SQ pun bisa meningkat sehingga orang akan
bahagia. Ahhh, makin penasaran dengan cerita-cerita yang disuguhkan. Memangnya
betul bisa membuat IQ, SQ dan EQ meningkat?
Setelah membaca halaman demi halaman bab selanjutnya,
barulah aku ngangguk-ngangguk “setuju” dengan apa pendapat penulis. Cerita yang
disuguhkan memang lucu dan menarik, membuat aku si pembaca senyum-senyum bahkan
ngekek-ngekek sendiri. Yang menjadikannya lebih menarik adalah penjelasan dan
wejangan penulis mengenai banyak hal dari pendidikan, sampai kebiasaan gaya
hidup di setiap cerita usai dituliskan. Dan itu semua membuatku merasa lebih
bahagia, padahal sebelumnya hati agak kacau dan galau. Jadi rupanya pas sekali
membaca buku ini. Membaca buku ini sedikit banyak mengurangi rasa marah dan
kecewa, tidak mengedepankan emosi, berfikir lebih jernih, banyak introspeksi
diri, memberikan banyak masukan positif. Saat membaca beberapa cerita,
terkadang keningku juga sedikit berkerut memikirkan maksud cerita si penulis. Karena
itulah mengapa kini aku setuju mengapa buku humor ini dapat mengasah dan
melejitkan potensi multiple-intellegences dari IQ, EQ, dan SQ, seperti apa yang
dituliskan di cover belakang buku tersebut.
Beberapa cerita sangat menarik perhatianku, salah satunya
cerita ke 15 tentang kebiasaan yang dapat membentuk pribadi seseorang.
Dikatakan sang penulis bahwa pembiasaan adalah salah satu cara untuk mendidik
diri kita dan generasi penerus kita. Wejangannya mengingatkanku akan sebuah
pesan yang sengaja di tempel di gedung rektorat tempatku kuliah dulu “Biasakan
yang benar, bukan membenarkan yang biasa!” Begitu kira-kira pesannya.
Dan yang paling memberikan kesan mendalam, adalah paparan
penulis di halaman 96 buku itu, dikatakan bahwa “tidak semua hal dapat
dikomunikasikan dengan tulisan. Suara tangis dan tawa tak pernah digambarkan
secara tepat oleh tulisan sebagus apapun. Suara hanya dapat didengarkan. Rasa manis,
pahit, asam/ asin, tak pernah dapat digambarkan oleh tulisan sehebat apapun. Rasa
hanya dapat dirasakan. Apalagi rasa rindu, benci dan cinta. Rasa itu hanya
dapat difahami oleh hati.” Uhhhh…. Dalem banget kata-katanya. Bagiku sendiri
itu juga merupakan sindiran yang membuatku sadar bahwa gaya komunikasiku selama
ini belum begitu baik, masih banyak yang harus kuperbaiki.
Mau tahu cerita lucunya lebih lengkap dan membaca wejangannya
lebih lanjut? Silahkan anda baca sendiri buku 226 halaman ini, penerbitnya Diva
Press. J betul-betul menarik dan membuat lebih FRESH.
Namun, setelah membaca buku itu masih saja ada yang
membuatku penasaran. Dari mana penulis mendapatkan cerita-cerita itu? beberapa
cerita memang sudah pernah kudengar, tapi yang lainnya… cerita fiksi atau hanya
rekaan? aku masih tak tahu! Sepertinya harus kutanyakan langsung ke pak
mustamir biar gak mati penasaran. Hehehehhe

0 komentar:
Posting Komentar