Sabtu, 18 Mei 2013

BAHAGIA DENGAN HUMOR BERMANFAAT

Ternyata melahap habis buku seri cerdas emosi karya kak seto membuatku ketagihan melahap buku perpustakaan yang lainnya. Seperti sebelumnya telah kukatakan, aku memang berniat ingin memanfaatkan perpusda sebaik-baiknya, terutama dalam hal pinjam-meminjam buku (karena memang untuk sekarang ini tak semua buku bagus bisa kubeli). Hehehe… 
Buku kedua yang kupinjam adalah buku karya Mustamir, “Kaya tapi miskin, Cara Lucu Menjaga Kesehatan, Melembutkan Emosi, Menajamkan Pikiran, dan Menjernihkan Ruhani”. Pertama melihat daftar pustaka sih gak terlalu wah, karena memang penampilannya biasa-biasa saja, hanya judul-judul pendek yang tak bisa kutebak maksud isinya. Tapi, ada yang menarik di beberapa halaman pertama, penulis mengharuskan pembaca tertawa meskipun itu hanya untuk menertawakan dirinya yang tak tertawa saat membaca cerita lucu yang ada dibuku itu. Hahahhaah… Ajakannya itu sungguh membuatku penasaran, memangnya selucu apa kisah yang ia tuliskan?
Halaman demi halaman pun kulahap, bab pertama lebih banyak menyuguhkan berbagai hasil penelitian dan informasi mengenai manfaat tertawa. Karena aku termasuk orang yang suka membaca hasil riset, makin asyiklah aku melahap buku itu. Salah satu hasil riset yang dipaparkan penulis adalah hasil riset Dr. Lee S. Berg dari Universitas Loma Linda, Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa ternyata tertawa membantu meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh alami (sel NK), dan juga dapat menaikkan jumlah antibodi (terutama immunoglobulin A) dalam lendir di hidung dan disaluran pernapasan yang dipercaya mempunyai kekuatan melawan virus, bakteri, dan mikroorganisme lain. Tertawa dapat mengurangi frekuensi terserang pilek, sakit tenggorokan, dan sesak nafas. Dampak tertawa terhadap sistem kekebalan dianggap sangat besar dalam hubungan dengan penyakit-penyakit mematikan seperti AIDS dan kanker. Begitu tulisnya di bab pertama bukunya.
Secara garis besar, buku ini memang mengajak pembaca untuk menjadi orang humoris. Mengapa demikian? Karena ternyata orang humoris mampu menguatkan dirinya dengan berusaha menempatkan masalah hidupnya diruang kedamaian, sehingga tidak mengganggu kesehatan, kecerdasan, dan kebijakannya, seperti yang telah penulis sampaikan dalam buku tersebut. Hanya saja, penulis tetap menekankan perbedaan antara humor dengan lelucon, karena humor menimbulkan ketentraman jiwa, sedangkan lelucon seringkali menimbulkan sakit hati dan permusuhan karena objeknya adalah orang/kelompok lain bukan dirinya sendiri. Penulis dengan yakin menjelaskan bahwa humor bisa menyehatkan badan, mengelola emosi, menjernihkan ruhani, dan juga melatih otak. Dengan begitu, kesehatan menjadi baik, IQ, EQ dan SQ pun bisa meningkat sehingga orang akan bahagia. Ahhh, makin penasaran dengan cerita-cerita yang disuguhkan. Memangnya betul bisa membuat IQ, SQ dan EQ meningkat?
Setelah membaca halaman demi halaman bab selanjutnya, barulah aku ngangguk-ngangguk “setuju” dengan apa pendapat penulis. Cerita yang disuguhkan memang lucu dan menarik, membuat aku si pembaca senyum-senyum bahkan ngekek-ngekek sendiri. Yang menjadikannya lebih menarik adalah penjelasan dan wejangan penulis mengenai banyak hal dari pendidikan, sampai kebiasaan gaya hidup di setiap cerita usai dituliskan. Dan itu semua membuatku merasa lebih bahagia, padahal sebelumnya hati agak kacau dan galau. Jadi rupanya pas sekali membaca buku ini. Membaca buku ini sedikit banyak mengurangi rasa marah dan kecewa, tidak mengedepankan emosi, berfikir lebih jernih, banyak introspeksi diri, memberikan banyak masukan positif. Saat membaca beberapa cerita, terkadang keningku juga sedikit berkerut memikirkan maksud cerita si penulis. Karena itulah mengapa kini aku setuju mengapa buku humor ini dapat mengasah dan melejitkan potensi multiple-intellegences dari IQ, EQ, dan SQ, seperti apa yang dituliskan di cover belakang buku tersebut.
Beberapa cerita sangat menarik perhatianku, salah satunya cerita ke 15 tentang kebiasaan yang dapat membentuk pribadi seseorang. Dikatakan sang penulis bahwa pembiasaan adalah salah satu cara untuk mendidik diri kita dan generasi penerus kita. Wejangannya mengingatkanku akan sebuah pesan yang sengaja di tempel di gedung rektorat tempatku kuliah dulu “Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa!” Begitu kira-kira pesannya.
Dan yang paling memberikan kesan mendalam, adalah paparan penulis di halaman 96 buku itu, dikatakan bahwa “tidak semua hal dapat dikomunikasikan dengan tulisan. Suara tangis dan tawa tak pernah digambarkan secara tepat oleh tulisan sebagus apapun. Suara hanya dapat didengarkan. Rasa manis, pahit, asam/ asin, tak pernah dapat digambarkan oleh tulisan sehebat apapun. Rasa hanya dapat dirasakan. Apalagi rasa rindu, benci dan cinta. Rasa itu hanya dapat difahami oleh hati.” Uhhhh…. Dalem banget kata-katanya. Bagiku sendiri itu juga merupakan sindiran yang membuatku sadar bahwa gaya komunikasiku selama ini belum begitu baik, masih banyak yang harus kuperbaiki.
Mau tahu cerita lucunya lebih lengkap dan membaca wejangannya lebih lanjut? Silahkan anda baca sendiri buku 226 halaman ini, penerbitnya Diva Press. J betul-betul menarik dan membuat lebih FRESH.
Namun, setelah membaca buku itu masih saja ada yang membuatku penasaran. Dari mana penulis mendapatkan cerita-cerita itu? beberapa cerita memang sudah pernah kudengar, tapi yang lainnya… cerita fiksi atau hanya rekaan? aku masih tak tahu! Sepertinya harus kutanyakan langsung ke pak mustamir biar gak mati penasaran. Hehehehhe 

0 komentar:

 
;