Buku seri cerdas emosi berjudul “Membantu anak
balita mengelola ketakutan” ini menjadi buku pertama yang kupinjam dari
Perpusda Salatiga. Selain karena materinya cocok untukku yang mempunyai anak
balita, buku ini juga menjadi lebih menarik karena narasumber buku ini adalah
kak seto. Siapa tak kenal kak seto di negeri ini. Psikolog anak yang mempunyai
nama lengkap Seto Mulyadi ini memang sudah tak diragukan lagi pengalamannya dengan
dunia anak-anak. Karena itulah aku selalu tertarik untuk mengetahui
pandangannya tentang pendidikan, pola asuh, dan segala hal tentang anak-anak
darinya. Dan menemukan buku ini adalah keberuntungan tersendiri untukku.
Kita selaku orangtua, terutama seorang ibu yang
selalu berinteraksi dengan anak memang wajib memiliki pengetahuan mengenai
cara-cara mengasuh dengan pola asuh yang benar, mendidik, dan memahami anak
dengan sebaik-baiknya. Salah satu hal penting yang harus difahami adalah cara
mengelola emosi anak, terutama anak balita yang pada umumnya mempunyai sifat
egosentis, dimana anak masih sangat berpusat pada diri sendiri, mau menang
sendiri, memikirkan apapun dari sudut pandangnya sendiri. Bila ibu dan ayah
tidak memahami dan tidak dapat mengarahkan kecenderungan ini, maka akan
berdampak pada pribadi anak dimasa selanjutnya.
Emosi anak memang seharusnya dikelola secara
positif dan penting untuk dilatih sejak dini, dengan begitu anak-anak dapat
tumbuh lebih baik dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dengan pola
pengasuhan yang dapat mencerdaskan emosi, anak-anak kita akan menjadi pribadi
yang positif, berani, santun, terbuka, mudah beradaptasi, mandiri dan
menyenangkan. Begitulah kira-kira yang kufaham lebih lanjut dari pemaparan kak
seto dalam buku ini.
Beberapa poin penting yang juga kupelajari dari
buku ini dan seoptimal mungkin selalu ingin bisa kulakukan, diantaranya adalah:
Pertama, kita selalu orangtua harus bisa menjadi
pendengar yang baik, memahami kondisi anak, terutama yang masih balita. Sebisa mungkin
harus bisa membantu anak untuk mengungkapkan perasaannya, karena “tidak ada
perasaan yang salah” seperti yang dituliskan diawal bab buku ini. Mengekspresikan
perasaan bukanlah hal yang salah, terutama mengungkapkan secara terbuka pada
orangtua begitulah intinya. Sejauh ini, aku sendiri memang terbiasa menuntun ‘ayyasy
untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Misalnya saja saat tiba-tiba dia
menangis sejadi-jadinya, mengamuk dan tak bisa mengungkapkan apa yang ingin ia
katakan, bahkan sepertinya ia tak tahu apa yang ia rasakan, aku biasa
membicarakannya pelan-pelan padanya. “adek sedih karena…. ,iya?” atau “adek marah ya karena umi begini …. atau abi
begini… “ jadi memang sebisa mungkin memberitahunya bahwa yang ia rasakan itu
sedih, marh, kecewa, ataupun bahagia. Tentunya dengan melihat sebab-sebabnya
terlebih dahulu. Yah, sikap dan caraku memang belum sebaik yang seharusnya,
tapi setidaknya semakin hari aku semakin banyak belajar dan memperbaikinya. Aku
ingin ‘ayyasy tahu dan merasa bahwa aku bisa memahaminya dan bisa menjadi orang
yang ia percaya.
Kedua, kita sebagai orangtua sudah sepatutnya
menjadi contoh yang baik, karena katanya bagi mereka kita dijadikan pahlawan
dan idola mereka. Menurut beberapa referensi yang pernah saya baca, anak-anak terutama balita memang sangat mudah meniru. Jadi harus sebisa mungkin menjadi uswatunhasanah bagi mereka.
Ketiga, karena buku ini juga banyak menyuguhkan
serba-serbi tentang ketakutan, dari sebab sampai tips dan trik mengatasinya,
maka hal ini membuatku lebih banyak mengintrospeksi diri, karena ternyata setelah
membaca poin demi poin tentang cara mengelola emosi anak, masih banyak
kesalahan yang kulakukan saat mengasuh dan mendidik ayyasy.
Jadi, mau lebih banyak memahami tentang hal ini? Karena
bukunya menarik dan asyik untuk dijadikan sumber pengetahuan, maka Lahaplah buku
ini senikmat mungkin, mari sama-sama berusaha mengasuh dan mendidik anak-anak
kita lebih baik lagi.
Selamat membaca!

0 komentar:
Posting Komentar