Sabtu, 18 Mei 2013

Belajar Memahami dan Mengelola Emosi Anak Bersama Kak Seto



Buku seri cerdas emosi berjudul “Membantu anak balita mengelola ketakutan” ini menjadi buku pertama yang kupinjam dari Perpusda Salatiga. Selain karena materinya cocok untukku yang mempunyai anak balita, buku ini juga menjadi lebih menarik karena narasumber buku ini adalah kak seto. Siapa tak kenal kak seto di negeri ini. Psikolog anak yang mempunyai nama lengkap Seto Mulyadi ini memang sudah tak diragukan lagi pengalamannya dengan dunia anak-anak. Karena itulah aku selalu tertarik untuk mengetahui pandangannya tentang pendidikan, pola asuh, dan segala hal tentang anak-anak darinya. Dan menemukan buku ini adalah keberuntungan tersendiri untukku.

Kita selaku orangtua, terutama seorang ibu yang selalu berinteraksi dengan anak memang wajib memiliki pengetahuan mengenai cara-cara mengasuh dengan pola asuh yang benar, mendidik, dan memahami anak dengan sebaik-baiknya. Salah satu hal penting yang harus difahami adalah cara mengelola emosi anak, terutama anak balita yang pada umumnya mempunyai sifat egosentis, dimana anak masih sangat berpusat pada diri sendiri, mau menang sendiri, memikirkan apapun dari sudut pandangnya sendiri. Bila ibu dan ayah tidak memahami dan tidak dapat mengarahkan kecenderungan ini, maka akan berdampak pada pribadi anak dimasa selanjutnya. 

Emosi anak memang seharusnya dikelola secara positif dan penting untuk dilatih sejak dini, dengan begitu anak-anak dapat tumbuh lebih baik dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dengan pola pengasuhan yang dapat mencerdaskan emosi, anak-anak kita akan menjadi pribadi yang positif, berani, santun, terbuka, mudah beradaptasi, mandiri dan menyenangkan. Begitulah kira-kira yang kufaham lebih lanjut dari pemaparan kak seto dalam buku ini.

Beberapa poin penting yang juga kupelajari dari buku ini dan seoptimal mungkin selalu ingin bisa kulakukan, diantaranya adalah:
Pertama, kita selalu orangtua harus bisa menjadi pendengar yang baik, memahami kondisi anak, terutama yang masih balita. Sebisa mungkin harus bisa membantu anak untuk mengungkapkan perasaannya, karena “tidak ada perasaan yang salah” seperti yang dituliskan diawal bab buku ini. Mengekspresikan perasaan bukanlah hal yang salah, terutama mengungkapkan secara terbuka pada orangtua begitulah intinya. Sejauh ini, aku sendiri memang terbiasa menuntun ‘ayyasy untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Misalnya saja saat tiba-tiba dia menangis sejadi-jadinya, mengamuk dan tak bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan, bahkan sepertinya ia tak tahu apa yang ia rasakan, aku biasa membicarakannya pelan-pelan padanya. “adek sedih karena…. ,iya?” atau  “adek marah ya karena umi begini …. atau abi begini… “ jadi memang sebisa mungkin memberitahunya bahwa yang ia rasakan itu sedih, marh, kecewa, ataupun bahagia. Tentunya dengan melihat sebab-sebabnya terlebih dahulu. Yah, sikap dan caraku memang belum sebaik yang seharusnya, tapi setidaknya semakin hari aku semakin banyak belajar dan memperbaikinya. Aku ingin ‘ayyasy tahu dan merasa bahwa aku bisa memahaminya dan bisa menjadi orang yang ia percaya.

Kedua, kita sebagai orangtua sudah sepatutnya menjadi contoh yang baik, karena katanya bagi mereka kita dijadikan pahlawan dan idola mereka. Menurut beberapa referensi yang pernah saya baca, anak-anak terutama balita memang sangat mudah meniru. Jadi harus sebisa mungkin menjadi uswatunhasanah bagi mereka.

Ketiga, karena buku ini juga banyak menyuguhkan serba-serbi tentang ketakutan, dari sebab sampai tips dan trik mengatasinya, maka hal ini membuatku lebih banyak mengintrospeksi diri, karena ternyata setelah membaca poin demi poin tentang cara mengelola emosi anak, masih banyak kesalahan yang kulakukan saat mengasuh dan mendidik ayyasy.
Jadi, mau lebih banyak memahami tentang hal ini? Karena bukunya menarik dan asyik untuk dijadikan sumber pengetahuan, maka Lahaplah buku ini senikmat mungkin, mari sama-sama berusaha mengasuh dan mendidik anak-anak kita lebih baik lagi.  

Selamat membaca!

0 komentar:

 
;