Aku : mau tanya, kamu cinta gak sama calonmu?
Dia : kalau gak cinta, gak bakal mau dilamar apalagi dinikah.
Aku : bener??
Dia : benerrr
Aku : emang udah pernah ketemu?
Dia : udah, 2 kali
Aku : baru ketemu 2 kali kok bisa cinta?
Dia : (menyebutkan beberapa alasan dengan singkat)
Aku : yakin???
Dia : haqqulyaqin
Aku : Yakin kalo besok setelah nikah, kemudian kamu menemukan banyak kekurangannya, kamu bisa terima dia apa adanya??
Dia : karena dari jauh-jauh hari aku udah tau kalau kekurangan itu pasti ada dan ditemukan. So, ya siapin mental untuk menerimanya, dan menutupi sama kebaikan-kebaikan.
Aku : Alhamdulillah kalo sudah nyiapin mental untuk semua itu. Karena ya itu, pastiiii banget kalo dah nikah kamu akan menemukan kekurangannya
Dia : Namanya juga manusia. Aku pun banyak kekurangannya
Aku : Mudah-mudahan aja besok setelah nikah kalian bisa saling menerima, kalaupun ada perbedaan pendapat, perbedaan persepsi tentanh suatu hal kalian bisa sabar... dan saling memahami. InsyaAllah setelah menikah kalian bisa tambah dewasa tambah bijaksana. Karena memang pernikahan itu membuat kita lebih memahami banyak hal.
Dia : Aamiin
Dialog singkat ini kembali membuatku memahami bahwa Kalau Allah berkehendak menanamkan rasa cinta dan sayang pada dua orang hambaNya, maka sungguh mereka akan saling mencintai, tak perduli seberapa jauh jarak mereka, seberapa sering mereka bertemu atau sudah berapa lama mereka saling mengenal. Kalau Allah berkehendak menyatukan dua hambaNya dalam ikatan pernikahan, maka dengan caraNya yang luar biasa, Ia akan mendekatkan jarak mereka, menguatkan hati dan langkah keduanya untuk membina kehidupan berumahtangga.
Kalau Allah sudah berkehendak menjodohkan mereka, maka tidak akan ada sesuatupun yang bisa menghalanginya. Begitupun sebaliknya. Kita tentu harus yakin kemahakuasaanNya, ikhtiar seoptimal mungkin disertai khusyunya do'a dan tawakkal yang luar biasa. Tentunya Allah sudah menuliskan takdir yang baik dan kita harus ikhlas menerimanya.
Ya... Kami biasa bercerita dan aku memang sering bertanya apapun padanya tentang banyak hal, tapi untuk pertanyaan-pertanyaan ini, baru sekali ini saja kutanyakan. Aku ingin meyakinkannya untuk kesekian kalinya. Karena pernikahan memang perjanjian yang berat, ia menyempurnakan setengah agama.
Menikah bukan hanya tentang memiliki pasangan hidup, tapi juga tentang menunaikan kewajiban. Dalam perjalanannya kita tidak hanya akan menemukan kebahagiaan, tapi juga akan menghadapi beberapa masalah yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya. Itulah mengapa kita harus menyiapkan sebaik baiknya persiapan. Tidak hanya materi dan fisik tapi juga mental dan ilmu. Kedekatan kita dengan Allah menjadi faktor paling utama, menjadi kunci agar kita bisa menjalaninya dengan baik.
Dia : kalau gak cinta, gak bakal mau dilamar apalagi dinikah.
Aku : bener??
Dia : benerrr
Aku : emang udah pernah ketemu?
Dia : udah, 2 kali
Aku : baru ketemu 2 kali kok bisa cinta?
Dia : (menyebutkan beberapa alasan dengan singkat)
Aku : yakin???
Dia : haqqulyaqin
Aku : Yakin kalo besok setelah nikah, kemudian kamu menemukan banyak kekurangannya, kamu bisa terima dia apa adanya??
Dia : karena dari jauh-jauh hari aku udah tau kalau kekurangan itu pasti ada dan ditemukan. So, ya siapin mental untuk menerimanya, dan menutupi sama kebaikan-kebaikan.
Aku : Alhamdulillah kalo sudah nyiapin mental untuk semua itu. Karena ya itu, pastiiii banget kalo dah nikah kamu akan menemukan kekurangannya
Dia : Namanya juga manusia. Aku pun banyak kekurangannya
Aku : Mudah-mudahan aja besok setelah nikah kalian bisa saling menerima, kalaupun ada perbedaan pendapat, perbedaan persepsi tentanh suatu hal kalian bisa sabar... dan saling memahami. InsyaAllah setelah menikah kalian bisa tambah dewasa tambah bijaksana. Karena memang pernikahan itu membuat kita lebih memahami banyak hal.
Dia : Aamiin
Dialog singkat ini kembali membuatku memahami bahwa Kalau Allah berkehendak menanamkan rasa cinta dan sayang pada dua orang hambaNya, maka sungguh mereka akan saling mencintai, tak perduli seberapa jauh jarak mereka, seberapa sering mereka bertemu atau sudah berapa lama mereka saling mengenal. Kalau Allah berkehendak menyatukan dua hambaNya dalam ikatan pernikahan, maka dengan caraNya yang luar biasa, Ia akan mendekatkan jarak mereka, menguatkan hati dan langkah keduanya untuk membina kehidupan berumahtangga.
Kalau Allah sudah berkehendak menjodohkan mereka, maka tidak akan ada sesuatupun yang bisa menghalanginya. Begitupun sebaliknya. Kita tentu harus yakin kemahakuasaanNya, ikhtiar seoptimal mungkin disertai khusyunya do'a dan tawakkal yang luar biasa. Tentunya Allah sudah menuliskan takdir yang baik dan kita harus ikhlas menerimanya.
Ya... Kami biasa bercerita dan aku memang sering bertanya apapun padanya tentang banyak hal, tapi untuk pertanyaan-pertanyaan ini, baru sekali ini saja kutanyakan. Aku ingin meyakinkannya untuk kesekian kalinya. Karena pernikahan memang perjanjian yang berat, ia menyempurnakan setengah agama.
Menikah bukan hanya tentang memiliki pasangan hidup, tapi juga tentang menunaikan kewajiban. Dalam perjalanannya kita tidak hanya akan menemukan kebahagiaan, tapi juga akan menghadapi beberapa masalah yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya. Itulah mengapa kita harus menyiapkan sebaik baiknya persiapan. Tidak hanya materi dan fisik tapi juga mental dan ilmu. Kedekatan kita dengan Allah menjadi faktor paling utama, menjadi kunci agar kita bisa menjalaninya dengan baik.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact