Ternyata butuh keberanian luar biasa untuk menjadi seorang mak comblang, seseorang yang menjadi perantara diantara dua orang yang ingin menikah. Apalagi kalau dua orang tersebut belum saling mengenal sebelumnya.
Berawal dari curhatan si A, seorang teman dekat yang tengah menghadapi masalah dalam perjalanannya menuju pernikahan, membuatku merenung dan ingin ikut membantu menyelesaikan masalahnya. Dan saat ia memintaku untuk mencarikan calon suami yang baik untuknya, tambah antusiaslah aku untuk juga mencarikan pasangan yang tepat untuknya. Sebetulnya ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, seorang temanku juga mengungkapkan hal yang sama. Sudah merasa cukup usia untuk menikah, tapi juga belum menemukan pasangan yang sesuai. Sudah ingin menikah, tapi masih saja ada perbedaan dengan si calon pasangan. Kemudian ia memintaku untuk mencarikan calon suami yang tepat. Namun karena kurasa tidak ada calon yang sesuai untuknya, akupun tak begitu merespon. Yah, karena memang menurutku banyak hal yang harus dipertimbangan. Harus sekufu lah. Mempertimbangkan kesesuaian latar belakang keluarga, latar belakang calon pasangan, kesesuaian fisik, pemahaman agama, dan sebisa mungkin memenuhi kriteria yang diinginkan calon pasangan.
Beberapa minggu kufikirkan permintaan A yang memintaku mencarikan calon suami. Tiba-tiba saja teringat si B, seorang pemuda, tetangga yang tidak kuketahui betul namanya dengan jelas. Hanya saja karena sering melihat aktifitas keseharian dan perangainya yang santun dan baik, sering juga melihatnya tengah menunaikan sholat di mushola, dan tak pernah kulihat ia bersama seorang wanita, jadilah aku tertarik untuk mempertemukan mereka berdua. Sepertinya kalau dari penampilan lahiriah si ya cocok lah :) Karena memang menurutku penampilan lahiriah itu juga penting untuk memulai suatu ikatan pernikahan. setelah itu kuyakinkan A kembali bahwa ia memang sedang tidak dipinang laki-laki lain. karena seperti yang kita tahu bahwa haram hukumnya meminang seorang wanita yang tengah dipinang laki-laki lain sehingga laki-laki tersebut memutuskan/membatalkannya. karenanya aku harus memastikan itu terlebih dahulu.
Setelah menyesuaikan penampilan fisik, akupun beralih menyesuaikan yang lainnya. Dengan tekad kuat, mulailah aku mencari informasi tentang si B. aku memang harus memastikan terlebih dahulu bahwa ia pemuda baik, taat, single, bukan pemabuk atau pecandu narkoba :). sebisa mungkin aku juga harus memastikan dia bukan playboy dan bukan macan ganas. wkwkwk... maksudnya bukan tipe pria yang suka menyiksa dan memangsa.
Pada awalnya bingung pada siapa aku harus bertanya, namun kemudian Allah memberikan jalan mudah dan memberikanku keberanian. Dan pada akhirnya, kudapatkan juga informasi lumayan lengkap tentang si B dari dua orang yang cukup mengenal dan dekat dengannya. Merasa banyak kesesuaian diantara keduanya, bahkan kurasa mereka berdua sekufu, bertambahlah keberanianku untuk mencoba memperkenalkan keduanya satu sama lain dengan bantuan seseorang yang cukup mengenal si B.
Mempertemukan dua orang yang sama-sama sendirian, yang berharap mengakhiri masa lajang yang sepi, yang ingin menikah untuk menyempurnakan setengah agamanya, adalah sesuatu yang membahagiakan namun juga membuat galau. Bagaimana tidak bahagia, karena bagiku, kebahagiaan yang sempurna itu adalah saat aku melihat orang-orang disekelilingku tersenyum, merasa bahagia, bukan hanya saat aku sendiri yang merasa bahagia. Kebahagiaan juga kudapat saat aku bermanfaat bagi orang-orang sekitar, yang dekat, jauh bahkan orang yang tidak kukenal. Terkadang kebahagiaan juga bisa kurasakan hanya dengan melihat mereka bahagia. Yah, begitulah! Kurasa, mempertemukan mereka berdua adalah sebuah kebaikan, seperti apa yang pernah dinasihatkan oleh Ali bin abi thalib r.a. "sebaik-baik syafaat adalah memperantarai dua orang untuk menikah, dimana dengan itu Allah mengumpulkan mereka berdua". karena itulah aku merasa bahagia. Itu yang paling utama.
Galau karena memang bukan hal yang mudah. Membuat cemas, khawatir, namun juga gemes ingin menyatukan keduanya kalau memang dirasa cocok. Mempertemukan keduanya adalah tanggung jawab besar. Karena ini menyangkut pernikahan, mitsaqon ghalizha (perjanjian yang amat berat) diantara keduanya. Ada kekhawatiran jika diantara mereka ada ketidaksesuaian setelah pernikahan, terlibat masalah yang berat, saling mengecewakan, dan tidak bahagia. fikiran seperti Itu membuatku tidak bisa tidur!! :(
hal lain yang tak kalah penting yang membuatku galau adalah keinginan untuk mempertemukan mereka dengan cara yang syar’i. Tanpa pacaran, tanpa hubungan tak jelas, tanpa cara-cara yang dilarang agama, yang tidak disukai Allah, dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasul. Padahal sepertinya mereka berdua belum faham betul tentang ini.
Nah loh…
Proses ta’aruf yang syar’I insyaallah akan mendatangkan keberkahan untuk perjalanan selanjutnya terutama kehidupan setelah pernikahan mereka. Karenanya aku ingin mereka menjalani proses ini dengan cara yang diridhoi Allah. Saat prosesnya tidak syar’I, maka otomatis akupun mungkin akan ikut berdosa. Itu dia yang tidak kuinginkan. Semoga ada jalan terbaik untuk hal ini. Amin!
Karenanya, aku masih mencari cara seoptimal mungkin untuk membantu mereka, memberikan kebahagiaan dan membuat mereka tersenyum. yang paling penting ikhtiar kita, mengenai hasilnya kuserahkan pada Allah, sang pemilik cinta. Bukankah jodoh seseorang itu berada dalam kuasanya? Yup, karenanya aku pun akan terus berdoa untuk kebaikan mereka. We will see, apa yang akan terjadi nanti. Semoga Allah memberikanku kemudahan, kekuatan, keberanian menjalankan misi ini.
Hahahha, kayak mike the knight aja punya misi. :)
Laa haula wa laa quwwata illa billah...
Laa haula wa laa quwwata illa billah...

0 komentar:
Posting Komentar