Hati tengah tak karuan rasanya.... to be in a whirl...
there are many things in my head, sampai speechless dan hanya bisa ternganga saja!
Kabar hari ini cukup membuatku berfikir tentang banyak hal. Bukan karena memikirkan orang lain, tapi lebih karena cermin diri yang sepertinya terlalu aneh dilihat.
Tiba-tiba tergambar jelas beberapa episode kehidupan dalam ingatan.
Terlihat anak perempuan yang masih TK saat itu tengah menyebutkan seluruh propinsi di Indonesia beserta ibu kotanya. Ia juga melafalkan surat-surat pendek Al-qur'an dan ayat-ayat pilihan beserta artinya dengan begitu fasih. Terndengar ia tengah berceloteh ceria menjawab pertanyaan ibunya tentang banyak hal.
Anak perempuan itu dengan penuh percaya diri bercuap-cuap dalam bahasa inggris dengan seorang teman sebayanya di depan ribuan wisudawan-wisudawati UNINUS Bandung. Tanpa ragu ia berada ditengah ribuan audiens itu, padahal usianya belum genap 8 tahun. Ia sempat mendapat penghargaan dan sekuntum bunga merah muda dari panitia acara tersebut. Bertemu dengan As'ad Humam, pencipta metode Iqro saat itu adalah kebanggan terbesarnya saat itu.
Di hari yang lain, ia pun dengan berani mendeklamasikan puisi yang dibuat ayahnya di tengah ratusan penonton acara imtihan, menjadi saritilawah bahkan menjadi pemain drama . Tampak juga saat-saat ia mendapatkan perhargaan dan hadiah kecil karena prestasinya di kelas.
Di beberapa kesempatan, anak perempuan itu terlihat menjadi seorang da'i cilik yang dengan fasihnya menguraikan masalah-masalah agama. Setidaknya bisa sampai setengah jam ia berbicara dengan percaya diri didepan ibu-ibu pengajian, tamu acara walimah, atau sekedar di acara silaturahmi biasa, baik di dalam maupun luar kota.
Suatu hari, tepatnya saat ia menginjak usia 7 tahun, ia terlihat bahagia melihat foto dan profilnya terpampang di beberapa koran dan majalah. Disana ia diumpamakan si “kecil-kecil cabe rawit” karena disamping memiliki prestasi baik dikelas, ia juga bisa menguasai 4 bahasa, yang tentu saja pada saat itu masih jarang anak kecil yang memiliki kemampuan seperti itu. Ia terlihat antusias saat membaca surat dari seorang fansnya, karena merasa ada orang yang begitu peduli padanya.
Saat berangkat ke sekolah, ia juga sempat membawa satu pak kerupuk yang akan ia titipkan dikantin sekolah. Saat pulang, ia akan menghitung berapa kerupuk yang tersisa dan mengambil uang hasil penjualannya. Saat kerupuknya laku terjual, ia akan tersenyum puas karena mendapat untung lebih banyak.
Saat SMP, ia terlihat lebih ingin menjadi diri sendiri dan memilih jalan lain. Lebih aktif berorganisasi dan lebih mengoptimalkan potensi akademiknya. Jadilah ia tak lagi menerima undangan untuk berceramah atau bercuap-cuap bahasa inggris di luar sekolah. Hanya saja, ia pernah sekali mengikuti acara perlombaan pidato di sekolahnya dan mendapat juara satu saat itu. Ia terkesan ingin keluar dari dunia kepopulerannya saat di SD dan menjadi lebih bebas. Saat kelas dua SMP, ia memberanikan diri menjejakkan kaki di puncak gunung gede pangrango. Menjadi suatu keharuan besar baginya saat bisa menatap bintang-bintang lebih dekat dari atas sana, karena ia begitu menyukai alam semesta hingga ia bercita-cita ingin menjadi astronom.
Tidak jauh dari masa-masanya di SMP, di SMA dia juga terlihat lebih aktif di organisasi. Ia menjadi seorang perencana, penyusun strategi, dan kader organisasi yang cukup aktif dan biasa memimpin. Ia pernah terlihat tengah menerima penghargaan atas lomba pidato tingkat SMA, juga pernah menjadi juara dua baca puisi sekabupaten. Puisi-puisinya memang biasa dipajang di mading sekolah, karena ia senang membuat puisi seperti ayahnya. Ia terbiasa menjadi yang pertama mengungkapkan pendapat di kelas, berani mendebat sesuatu yang ia anggap tidak benar. Sangat dekat dengan para guru di kelas karena ia bisa menyelesaikan soal-soal mereka di depan kelas.
Di sisi yang lain, ia tetap menyukai alam sehingga biasa ikut acara pecinta alam di sekolah. Ia bahkan pernah ikut refling untuk bisa menaklukkan rasa takutnya pada ketinggian. Tinggi badannya yang hanya 155 cm, tidak menyurutkan langkahnya untuk bergabung dengan tim basket di sekolah, karena memang basket adalah olahraga yang ia sukai. Di SMA, ia terlihat begitu sibuk karena padatnya aktivitas belajar dan organisasi. Dan itu berlanjut sampai ia kuliah di salah satu universitas di yogyakarta.
Beberapa episode itu membuatku tertegun haru, sekaligus bertanya-tanya tentang banyak hal. Pertanyaan-pertanyaan yang belum juga kutemukan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena kini anak perempuan itu tak ada lagi... akupun heran, kemana dia... entah apa yang sebenarnya membuatnya berubah menjadi begitu pemalu dan biasa bersembunyi, tak berani seperti dulu, tak percaya diri lagi. Entah apa yang salah, entah masa mana yang membuatnya menjadi begitu berbeda.
Entah akan ada lagi episode-episode mengharukan itu, atau tidak sama sekali. Menurutku, semuanya memang tergantung padanya... maukah ia bangkit atau tidak, tahukah ia bagaimana caranya bangkit atau tidak, akankah ia berani bangun dari tidur nyenyaknya atau tidak! Ia yang menentukan inginnya... ia sendiri... dan tentu saja Allah yang menunjukkan dan memberinya jalan...
semoga ada perubahan menjadi lebih baik, sehingga episode-episode mengharukan itu tidak hanya tergambar dalam ingatan... tapi bisa dirasakan lebih nyata. Bukan untuk mendapatkan kepopuleran, tapi untuk bisa lebih bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, ummat, dan tentunya untuk mendapat ridho Allah, membuktikan kesyukuran atas nikmat yang Allah beri dan anugerahkan. Aku yakin, pada dasarnya perempuan itu masih memiliki banyak potensi...
Wallahu a'lam.

0 komentar:
Posting Komentar