Minggu, 26 Januari 2014 0 komentar

Dunia vs Akhirat

Aku tengah merenungkan perkataan Rasulullah SAW ini dengan sungguh-sungguh:

"Barangsiapa yang urusan akhirat adalah pusat perhatiannya, Allah letakkan kekayaannya dalam hatinya, urusannya menjadi bersatu, dan rezeki dunia akan menjadi lapang. Sedangkan orang yang pusat perhatiannya adalah urusan dunia, Allah letakkan kemiskinannya ada di pelupuk matanya, urusannya tercerai berai dan rezkinya menjadi sempit". 
[HR Tirmidzy dan lainnya]  

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


  "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"- Q.S. Al-Baqarah:201-




Jumat, 24 Januari 2014 0 komentar

Me-Time

Me-time... Tidak asing bukan dengan istilah yang satu ini? Kalo kita lihat thefreedictionary.com, me-time itu berarti "the time a person has to himself or herself, in which to do something for his or her own enjoyment", singkatnya si taking time for yourself.

Me-time itu, waktu untuk diri kita sendiri, melakukan apa yang sesungguhnya ingin kita lakukan. Me time juga menjadi waktu istirahat dari setiap rutinitas yang membuat kita bosen, penat dan lelah. Kalo kita banyak membaca tentang manfaat me-time, maka kita akan tahu kalau me-time itu sangat bermanfaat dan memang kita perlukan. Nah salah satu manfaatnya bisa kita baca dari situs kesehatan www.webmd.boots.com yang menuliskan bahwa
"Taking time of yourself has psychological and physical benefits. If you give yourself a break you'll feel refreshed and happier". Mudeng tho maksudnya?


Saya yang seorang "full time mommy" terbiasa dengan kegiatan rutin dirumah dapat merasakan betul manfaat me-time ini. Itulah mengapa saya sering nyuri-nyuri waktu buat sendirian, melakukan apa yang betul-betul saya sukai, dan biasanya itu bisa saya dapatkan kalo anak-anak dan suami sudah tertidur pulas. heheheh...

Saya yakin bahwa setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk menikmati me-time. Ada yang melakukan hobi, ada yang membaca, hangout, atau mungkin hanya berbaring saja. Yup, setiap orang punya cara sendiri menikmatinya.
Dan, apa yang kulakukan saat menikmati me-time? 
Seperti yang pernah saya tuliskan di blog ini sebelumnya, saya suka sekali "Duduk manis di depan laptop, berkelana di dunia maya, membaca banyak artikel dan buku, serasa rekreasi ke seluruh penjuru negeri, berjalan-jalan ke ruang angkasa yang entah dimana ujungnya. Selalu membuat penasaran hingga tak ingin berhenti membacanya... :)". Itu yang biasanya kulakukan. 

Menurut saya pribadi, selain melakukan hobi atau melakukan sesuatu yang kita sukai, me-time itu juga perlu kita isi dengan hal-hal bermanfaat yang bisa meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik, syukur-syukur bisa lebih mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta, Allah SWT. 
Bagi muslim maupun muslimah, ada baiknya kalau kita menjadikan waktu sholat kita sebagai me-time. Saat sholat, saat berdo'a dan mengingat Allah kita bisa lebih dekat denganNya, bisa lebih tenang, juga tentram-In Sya Allah kalo sholatnya khusyu-(Aku tengah berusaha sebaik mungkin untuk  bisa menikmati waktu sholat ini sebagai me-time :)). Rasulullah SAW, suri tauladan kita pun mencontohkannya seperti dalam  hadits riwayat Ahmad, An Nasa’i dari Anas bin Malik ra, dimana Beliau mengatakan: “Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain (sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) sholat.”
Dalam riwayat lain oleh Imam Ahmad dikatakan bahwa:”Jika Rasulullah menghadapi urusan yang pelik ia berkata : “Istirahatkan aku dengannya (shalat) wahai Bilal”.

Jadi, sudah tahu kan tentang me-time ini? 
semoga kita bisa menikmati me-time dengan hal-hal bermanfaat dan bisa membuat kualitas diri kita lebih baik terutama di hadapan Allah . Amiin...
Senin, 20 Januari 2014 0 komentar

Taare Zameen Par


"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar".
(Q.S At-Taghobun:15) 
Kali ini lagi  mau cerita tentang film apik yang bulan lalu baru saja kutonton. Judulnya Taare Zameen par hasil garapan Aamir Khan. Film ini bercerita tentang Ishaan Awasthi, seorang anak yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis atau yang biasa kita kenal dengan istilah disleksia.


Harus ku katakan aku suka banget Film ini. Selain karena akting para aktornya yang memukau, tema film ini juga sangat menarik, yaitu tentang pendidikan dan parenting yang bertajuk "Every child is special". Suatu hal yang begitu kupercayai, bahwa memang setiap anak itu unik. Mereka mempunyai kelebihan, potensi dan keistimewaan masing-masing. Bahkan hal itupun berlaku untuk setiap orang, bukan hanya bagi anak kecil saja. 

Aku percaya bahwa Allah memberikan setiap manusia itu potensi kebaikan, bakat serta keistimewaan masing-masing. Orang ini mungkin cepat dalam memahami bahasa, orang satunya mungkin genius dalam matematika, orang satunya lagi mungkin hebat banget kalau melukis. Bakat dan potensi yang mereka miliki perlu digali sejak kecil, kemudian dikembangkan seoptimal mungkin, karena itu merupakan salah satu bentuk syukur pada Allah.

Film ini banyak memberikan pelajaran berharga, menginspirasi, memberikan banyak masukan dalam mendidik anak. Menonton film ini juga  membuatku merenung, berfikir tentang 'Ayyasy, putraku yang kini masih balita dan mulai memasuki usia sekolah. Aku harus senantiasa bersyukur pada Allah karena telah dianugerahi putra yang sehat dengan fisik sempurna, dan cerdas. Karenanya, aku harus senantiasa membekali diri dengan ilmu agar bisa mendidiknya seoptimal mungkin sebagai bukti rasa syukurku pada Allah. Aku juga harus bersungguh-sungguh berdo'a semoga Allah senantiasa menuntunnya agar ia berjalan di jalan yang benar, menjadi laki-laki sholih, menjadi qurrata a'yun bagi kami orangtuanya. 

Yup, Ilmu merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap orang tua dalam mendidik anak-anak. Kita para orangtua harus mempunyai bekal ilmu untuk dapat mendidik, menuntun, dan mengarahkan putra-puteri kita. Selain itu, perlu kasih sayang yang besar, ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. 


Mendidik anak juga perlu kreativitas. Bagaimana caranya agar anak-anak bisa mengoptimalkan dan memanfaatkan potensi mereka sehingga bisa mencapai kesuksesan di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai hal demikian itu, perlu cara yang baik bukan dengan cara yang membuat anak menjadi rendah diri, bukan dengan label yang negatif.


Orang tua harus senantiasa memberikan perhatian yang besar pada anak-anak. Kita para orang tua harus bisa memahami perasaan mereka, memberikan kepedulian sehingga anak-anak merasa nyaman, bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan fikirkan. Jika anak merasa aman, nyaman, merasa dimengerti maka emosi anak akan lebih baik dan mereka akan dengan lebih mudah menerima masukan, arahan, dan kritik.
 






"Kepedulian itu sebuah kekuatan, pengobat kesedihan, menentramkan hati" 
(Ram Shankar Nikumb)








Kita juga harus menghargai setiap prestasi yang telah anak raih, meski hanya dengan sebuah pujian. Karena hal itu dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, dengan begitu mereka akan lebih mudah mengembangkan potensi yang mereka miliki. Bila ada sesuatu yang salah, maka carilah permasalahan sebenarnya, apa yang menjadi akar masalahnya. Dengan mengetahui masalah yang sesungguhnya terjadi, maka In Sya Allah kita bisa mendapatkan solusi yang baik dengan mudah.

Perlu diingat, kekompakan antara Ayah dan Ibu juga berperan penting dalam kesuksesan proses pendidikan anak terutama saat mereka di rumah. Ayah dan Ibu harus saling membantu, berkomunikasi dengan baik dan tidak menyerahkan tanggungjawab pada salah satu diantara mereka berdua saja. Keduanya harus bisa bekerja sama dan menyatukan pandangan.

Dari film ini, aku juga jadi mengetahui lebih banyak tentang disleksia, dan ternyata banyak orang terkenal yang mengalami gangguan disleksia, diantaranya: einstein, Leonardo da Vinci, Thomas alva edison, dan banyak lagi... 

Film ini recommended banget deh pokoknya. 

Oya, aku tambahkan satu hal paling penting dalam mendidik anak yang tak ada dalam film ini, yaitu KEDEKATAN KITA PADA ALLAH. Mengapa hal ini dibutuhkan? karena bila hubungan kita dekat dengan Allah, maka In Sya Allah kita para orangtua akan diberikan jalan terbaik dalam mendidik anak-anak. Karena Ialah Dzat yang menciptakan kita, anak-anak kita, yang menguasai diri-diri dan hati kita. Dengan kedekatan kita pada Allah, maka In Sya Allah do'a akan lebih di dengarNya, kita akan diberikan petunjuk dan kekuatan dalam mendidik anak-anak kita. Wallahu'alam...

Aku tengah belajar mendidik anak dengan ikhlas dan sabar. 

Semoga Allah senantiasa menuntunku selalu, Amiin...


Senin, 13 Januari 2014 0 komentar

Belajar Bersabar!

 Akhir-akhir ini sering teringat kata-kata syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah tentang sabar. Beliau mengatakan bahwa sabar itu ada 3 bagian: yang Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah, kemudian yang Kedua, sabar untuk tidak melakukan hal yang diharamkan Allah, dan yang Ketiga adalah sabar dalam menghadapi takdir yang dialaminya, berupa hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul diluar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain.

Aku tengah belajar bersabar! sabar memang bukanlah perkara mudah, perlu diikhtiarkan sebaik mungkin dan juga perlu pembiasaan. Terus mencari ilmu dan belajar bersabar.

Semoga Allah senantiasa menolongku untuk menjadi seorang yang sabar! 
Amiin...
Sabtu, 18 Mei 2013 0 komentar

BAHAGIA DENGAN HUMOR BERMANFAAT

Ternyata melahap habis buku seri cerdas emosi karya kak seto membuatku ketagihan melahap buku perpustakaan yang lainnya. Seperti sebelumnya telah kukatakan, aku memang berniat ingin memanfaatkan perpusda sebaik-baiknya, terutama dalam hal pinjam-meminjam buku (karena memang untuk sekarang ini tak semua buku bagus bisa kubeli). Hehehe… 
Buku kedua yang kupinjam adalah buku karya Mustamir, “Kaya tapi miskin, Cara Lucu Menjaga Kesehatan, Melembutkan Emosi, Menajamkan Pikiran, dan Menjernihkan Ruhani”. Pertama melihat daftar pustaka sih gak terlalu wah, karena memang penampilannya biasa-biasa saja, hanya judul-judul pendek yang tak bisa kutebak maksud isinya. Tapi, ada yang menarik di beberapa halaman pertama, penulis mengharuskan pembaca tertawa meskipun itu hanya untuk menertawakan dirinya yang tak tertawa saat membaca cerita lucu yang ada dibuku itu. Hahahhaah… Ajakannya itu sungguh membuatku penasaran, memangnya selucu apa kisah yang ia tuliskan?
Halaman demi halaman pun kulahap, bab pertama lebih banyak menyuguhkan berbagai hasil penelitian dan informasi mengenai manfaat tertawa. Karena aku termasuk orang yang suka membaca hasil riset, makin asyiklah aku melahap buku itu. Salah satu hasil riset yang dipaparkan penulis adalah hasil riset Dr. Lee S. Berg dari Universitas Loma Linda, Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa ternyata tertawa membantu meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh alami (sel NK), dan juga dapat menaikkan jumlah antibodi (terutama immunoglobulin A) dalam lendir di hidung dan disaluran pernapasan yang dipercaya mempunyai kekuatan melawan virus, bakteri, dan mikroorganisme lain. Tertawa dapat mengurangi frekuensi terserang pilek, sakit tenggorokan, dan sesak nafas. Dampak tertawa terhadap sistem kekebalan dianggap sangat besar dalam hubungan dengan penyakit-penyakit mematikan seperti AIDS dan kanker. Begitu tulisnya di bab pertama bukunya.
Secara garis besar, buku ini memang mengajak pembaca untuk menjadi orang humoris. Mengapa demikian? Karena ternyata orang humoris mampu menguatkan dirinya dengan berusaha menempatkan masalah hidupnya diruang kedamaian, sehingga tidak mengganggu kesehatan, kecerdasan, dan kebijakannya, seperti yang telah penulis sampaikan dalam buku tersebut. Hanya saja, penulis tetap menekankan perbedaan antara humor dengan lelucon, karena humor menimbulkan ketentraman jiwa, sedangkan lelucon seringkali menimbulkan sakit hati dan permusuhan karena objeknya adalah orang/kelompok lain bukan dirinya sendiri. Penulis dengan yakin menjelaskan bahwa humor bisa menyehatkan badan, mengelola emosi, menjernihkan ruhani, dan juga melatih otak. Dengan begitu, kesehatan menjadi baik, IQ, EQ dan SQ pun bisa meningkat sehingga orang akan bahagia. Ahhh, makin penasaran dengan cerita-cerita yang disuguhkan. Memangnya betul bisa membuat IQ, SQ dan EQ meningkat?
Setelah membaca halaman demi halaman bab selanjutnya, barulah aku ngangguk-ngangguk “setuju” dengan apa pendapat penulis. Cerita yang disuguhkan memang lucu dan menarik, membuat aku si pembaca senyum-senyum bahkan ngekek-ngekek sendiri. Yang menjadikannya lebih menarik adalah penjelasan dan wejangan penulis mengenai banyak hal dari pendidikan, sampai kebiasaan gaya hidup di setiap cerita usai dituliskan. Dan itu semua membuatku merasa lebih bahagia, padahal sebelumnya hati agak kacau dan galau. Jadi rupanya pas sekali membaca buku ini. Membaca buku ini sedikit banyak mengurangi rasa marah dan kecewa, tidak mengedepankan emosi, berfikir lebih jernih, banyak introspeksi diri, memberikan banyak masukan positif. Saat membaca beberapa cerita, terkadang keningku juga sedikit berkerut memikirkan maksud cerita si penulis. Karena itulah mengapa kini aku setuju mengapa buku humor ini dapat mengasah dan melejitkan potensi multiple-intellegences dari IQ, EQ, dan SQ, seperti apa yang dituliskan di cover belakang buku tersebut.
Beberapa cerita sangat menarik perhatianku, salah satunya cerita ke 15 tentang kebiasaan yang dapat membentuk pribadi seseorang. Dikatakan sang penulis bahwa pembiasaan adalah salah satu cara untuk mendidik diri kita dan generasi penerus kita. Wejangannya mengingatkanku akan sebuah pesan yang sengaja di tempel di gedung rektorat tempatku kuliah dulu “Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa!” Begitu kira-kira pesannya.
Dan yang paling memberikan kesan mendalam, adalah paparan penulis di halaman 96 buku itu, dikatakan bahwa “tidak semua hal dapat dikomunikasikan dengan tulisan. Suara tangis dan tawa tak pernah digambarkan secara tepat oleh tulisan sebagus apapun. Suara hanya dapat didengarkan. Rasa manis, pahit, asam/ asin, tak pernah dapat digambarkan oleh tulisan sehebat apapun. Rasa hanya dapat dirasakan. Apalagi rasa rindu, benci dan cinta. Rasa itu hanya dapat difahami oleh hati.” Uhhhh…. Dalem banget kata-katanya. Bagiku sendiri itu juga merupakan sindiran yang membuatku sadar bahwa gaya komunikasiku selama ini belum begitu baik, masih banyak yang harus kuperbaiki.
Mau tahu cerita lucunya lebih lengkap dan membaca wejangannya lebih lanjut? Silahkan anda baca sendiri buku 226 halaman ini, penerbitnya Diva Press. J betul-betul menarik dan membuat lebih FRESH.
Namun, setelah membaca buku itu masih saja ada yang membuatku penasaran. Dari mana penulis mendapatkan cerita-cerita itu? beberapa cerita memang sudah pernah kudengar, tapi yang lainnya… cerita fiksi atau hanya rekaan? aku masih tak tahu! Sepertinya harus kutanyakan langsung ke pak mustamir biar gak mati penasaran. Hehehehhe 
0 komentar

Belajar Memahami dan Mengelola Emosi Anak Bersama Kak Seto



Buku seri cerdas emosi berjudul “Membantu anak balita mengelola ketakutan” ini menjadi buku pertama yang kupinjam dari Perpusda Salatiga. Selain karena materinya cocok untukku yang mempunyai anak balita, buku ini juga menjadi lebih menarik karena narasumber buku ini adalah kak seto. Siapa tak kenal kak seto di negeri ini. Psikolog anak yang mempunyai nama lengkap Seto Mulyadi ini memang sudah tak diragukan lagi pengalamannya dengan dunia anak-anak. Karena itulah aku selalu tertarik untuk mengetahui pandangannya tentang pendidikan, pola asuh, dan segala hal tentang anak-anak darinya. Dan menemukan buku ini adalah keberuntungan tersendiri untukku.

Kita selaku orangtua, terutama seorang ibu yang selalu berinteraksi dengan anak memang wajib memiliki pengetahuan mengenai cara-cara mengasuh dengan pola asuh yang benar, mendidik, dan memahami anak dengan sebaik-baiknya. Salah satu hal penting yang harus difahami adalah cara mengelola emosi anak, terutama anak balita yang pada umumnya mempunyai sifat egosentis, dimana anak masih sangat berpusat pada diri sendiri, mau menang sendiri, memikirkan apapun dari sudut pandangnya sendiri. Bila ibu dan ayah tidak memahami dan tidak dapat mengarahkan kecenderungan ini, maka akan berdampak pada pribadi anak dimasa selanjutnya. 

Emosi anak memang seharusnya dikelola secara positif dan penting untuk dilatih sejak dini, dengan begitu anak-anak dapat tumbuh lebih baik dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dengan pola pengasuhan yang dapat mencerdaskan emosi, anak-anak kita akan menjadi pribadi yang positif, berani, santun, terbuka, mudah beradaptasi, mandiri dan menyenangkan. Begitulah kira-kira yang kufaham lebih lanjut dari pemaparan kak seto dalam buku ini.

Beberapa poin penting yang juga kupelajari dari buku ini dan seoptimal mungkin selalu ingin bisa kulakukan, diantaranya adalah:
Pertama, kita selalu orangtua harus bisa menjadi pendengar yang baik, memahami kondisi anak, terutama yang masih balita. Sebisa mungkin harus bisa membantu anak untuk mengungkapkan perasaannya, karena “tidak ada perasaan yang salah” seperti yang dituliskan diawal bab buku ini. Mengekspresikan perasaan bukanlah hal yang salah, terutama mengungkapkan secara terbuka pada orangtua begitulah intinya. Sejauh ini, aku sendiri memang terbiasa menuntun ‘ayyasy untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Misalnya saja saat tiba-tiba dia menangis sejadi-jadinya, mengamuk dan tak bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan, bahkan sepertinya ia tak tahu apa yang ia rasakan, aku biasa membicarakannya pelan-pelan padanya. “adek sedih karena…. ,iya?” atau  “adek marah ya karena umi begini …. atau abi begini… “ jadi memang sebisa mungkin memberitahunya bahwa yang ia rasakan itu sedih, marh, kecewa, ataupun bahagia. Tentunya dengan melihat sebab-sebabnya terlebih dahulu. Yah, sikap dan caraku memang belum sebaik yang seharusnya, tapi setidaknya semakin hari aku semakin banyak belajar dan memperbaikinya. Aku ingin ‘ayyasy tahu dan merasa bahwa aku bisa memahaminya dan bisa menjadi orang yang ia percaya.

Kedua, kita sebagai orangtua sudah sepatutnya menjadi contoh yang baik, karena katanya bagi mereka kita dijadikan pahlawan dan idola mereka. Menurut beberapa referensi yang pernah saya baca, anak-anak terutama balita memang sangat mudah meniru. Jadi harus sebisa mungkin menjadi uswatunhasanah bagi mereka.

Ketiga, karena buku ini juga banyak menyuguhkan serba-serbi tentang ketakutan, dari sebab sampai tips dan trik mengatasinya, maka hal ini membuatku lebih banyak mengintrospeksi diri, karena ternyata setelah membaca poin demi poin tentang cara mengelola emosi anak, masih banyak kesalahan yang kulakukan saat mengasuh dan mendidik ayyasy.
Jadi, mau lebih banyak memahami tentang hal ini? Karena bukunya menarik dan asyik untuk dijadikan sumber pengetahuan, maka Lahaplah buku ini senikmat mungkin, mari sama-sama berusaha mengasuh dan mendidik anak-anak kita lebih baik lagi.  

Selamat membaca!
0 komentar

MEMBACA LAGI dan LAGI



Salah satu program rutin Homeschooling ‘Ayyasy, anakku yang sebentar lagi menginjak umur 4 tahun adalah mengunjungi perpustakaan daerah yang ada di kota kecilku, Salatiga. Perpusda Salatiga kini memang lebih menarik dibandingkan dulu. Selain karena lokasinya yang lebih dekat dari tempat tinggal kami, bangunannya yang baru pun lebih menarik karena lebih nyaman untuk dijadikan tempat membaca dan belajar. Yang paling menarik lagi adalah karena koleksi bukunya lebih beragam dan bagus. Sampai-sampai ‘ayyasy pun antusias untuk datang dan membaca di perpusda. Alhamdulillah! Senang sekali membersamai ‘ayyasy yang antusias memilih buku mana yang ingin ia baca(walau masih harus dibacakan karena belum bisa membaca), membacakan cerita yang ingin ia dengar walau masih tak bisa bertahan lama, karena memang ia anak yang aktif, lebih senang jalan kesana-kemari. Mudah-mudahan ia akan selalu tertarik dan semangat membaca buku yang bermanfaat. Amin.
Mengunjungi perpustakaan memang akan kujadikan rutinitas yang menyenangkan, selain untuk membiasakan ‘ayyasy senang membaca (karena koleksi buku untuk anak-anaknya bagus dan menarik), aku juga berencana untuk memanfaatkan sebaik mungkin keberadaan perpusda untuk kebahagiaanku sendiri. Hehehe! Ingin lebih banyak buku yang kubaca setiap tahunnya. Sudah lama aku ingin membaca banyak buku bagus, tapi memang tidak semua buku bagus bisa kubeli, jadilah aku ingin memanfaatkannya perpus sebaik mungkin. Karena salah satu kebijakan perpusda ini memperbolehkan anggota meminjam bukunya maksimal 2 buku untuk 3 hari, maka 1 buku untukku, dan 1 buku untuk ‘ayyasy. Jadi kalau begitu, kami akan mengunjungi perpustakaan 3 hari sekali, mudah2an tidak bosan, malah tambah semangat baca sampai buku perpus kulahap habis semua! :D
Aku memang harus-betul-betul bersyukur karena saat ini beda dengan saat sekolah dulu. Aku lebih bebas, bisa membaca buku bagus semaunya, karena masa Kini tak harus banyak membaca buku pelajaran dan buku PR. Aku bisa memilih buku apa yang kusuka dan ingin kubaca. Jadi, buku apa yang betul-betul ingin kubaca?
BUKU YANG MAMPU MENGUBAHKU MENJADI LEBIH BAIK! 
 
;